Powered By Blogger

Senin, 20 Juni 2011

AKU INGIN KEMBALI

Aku terpekur lama, menata masa depan yang terpampang dihadapanku. Memberiku sekelumit pilihan sulit tentang serentetan masa depan yang juga diluar kuasaku. Sesuatu yang tak mampu kuraba, sekedar mampu kurancang meski ku tahu takkan pernah sempurna. Pilihan-pilihan berseliweran, seolah ingin menggoda komitmenku. Mempertanyakan banyak hal yang menjadi jawaban atas kejujuran dalam hatiku. Egoku, perasaanku, mimpiku, bahkan buaian angan-anganku semua bercampur menjadi adonan yang aku sulit mengatakan rasanya. Tarik menarik antara mimpi dan realita. Dan aku memang harus terpekur, untuk merenung, dan berhenti sejenak. Bukan untuk melamun atau hanya berhenti pada tataran angan hampa yang kosong dan semu.

Namun ini tak mudah, ini situasi kompleks yang dulu sering aku hindari. Terlalu banyak hal yang bermain, hingga lidah ini tak sanggup ungkapkan rasa karena daya kecapnya yang mulai memudar. Ada banyak pilihan, dan mungkin terlalu banyak pertimbangan, begitu analisis seorang ibu tentangku. Kini, aku tak bisa mungkir apalagi berlari dari semuanya. Saat ini aku harus berbalik arah, dan menghadapinya. Menjalaninya, dan berhenti berlari. Meski ada rasa takut, meski ada berbagai rasa yang terkorbankan, aku yakin aku bisa.

Ya, berbekal satu rasa tsiqohbillah. Kemana selama ini tsiqoh bersembunyi di relung hati. Hilangkah bersama kian menurunnya yaumiku, bersama lepasnya hafalanku, bersama turunnya imanku. Dan kini, aku seperti orang yang kebingungan karena kehilangan anak satu-satunya. Iman… Ya, manisnya iman. Kemana mutiara yang berada didasar hati itu…. kemana aku harus mencarinya??

Aku mulai menapaki perjalanan ruhani kebelakang. Sungguh, setan begitu ingin menggoda kita, menjerumuskan kita dalam kedzaliman. Memanfaatkan sisi-sisi terlemah kita. Dan begitu seringnya akhirnya kita tergoda, dan menodai kesucian hati yang selama ini kita jaga. Kata-kata yang tepat untuk diucapkan saat ini, ya Rasulullah maafkan kami. Sebuah kerinduan menyeruak hangat dalam hatiku. Kerinduan akan perjumpaan dengan sang kekasih sejati. Kerinduan akan cinta yang benar dan hakiki. Dan aku tak mau lagi berpaling.

Sahabatku, saudaraku…. Aku sangat menyukai saat-saat aku berbagi denganmu. Meski sekedar lewat sebuah tulisan yang hadir dihadapanmu. Saat mencoba mengetuk pintu relung hati, dan mencari kemuliaan izzah seorang muslim dalam dasar hati ini. Sungguh, kehidupan ini adalah serangkaian masalah, serentetan soal dan ujian yang takkan ada habisnya. Hingga penghujung usia kita yang membatasinya. Kebahagiaanku, adalah saat bersama semua. Sahabat, saudara, patner da’wah, adik, mad’u, mas’ul, jundi…. Bersama semua adalah energi yang begitu besar. Hingga tanpa kusadari pertemuan-pertemuan bersama semua adalah saat-saat yang dirindukan. Cinta adalah gagasan yang menjadi muara, tak sekedar aliran sungai, atau genangan air (meminjam tulisan seorang ustadz). Dan disini kutemukan gagasan itu dalam sepotong cinta yang tertambat.

Namun sahabat, seringkali kenyataan tak semanis keinginan. Serangkaian soal yang kini terpampang dihadapanku seolah memintaku untuk mengerjakannya dengan cara lain. Tidak hanya melulu memperturutkan ego dan hawa nafsuku. Memintaku menyelesaikannya dengan bijak dan selaksa iman.

Itulah alasan aku terjun kelautan dasar hatiku. Mempertanyakan banyak hal didalamnya, menegaskan kejujuran dan komitmen yang hadir disana. Tarik menarik antara impian dan realita pun, kerap kali membawaku dalam kondisi paranoid untuk mempertahankan terguncangnya benteng mimpiku. Dan aku terus menyakinkan diri dengan semua impian, sampai pada akhirnya aku harus terbangun.

Ya terbangun dan tersadarkan, aku harus kembali. Kembali pada hakikat sejati seorang da’i. Pilihan-pilihan yang ada boleh jadi sesuatu yang menanti jawabku. Menantangku untuk memberikan sepotong hatiku. Dan ditepian asa ini aku berdiri… Mencoba untuk tegak berdiri. Melawan angin yang berhembus kencang. Bertahan meski hujan badai mengalir deras. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali. Dalam naungan cinta sejati yang selama ini kucari. Aku sadar aku hanyalah debu yang tak berarti dilautan kuasa-Nya, dalam mahligai cintaNya, dalam Rahman-Nya yang takkan sanggup kuhitung kebaikan-Nya. Dan aku ingin kembali, tergetarkan oleh kalam-Nya, menangis karena khauf dan roja pada-Nya, merindu janji-janji-Nya. Aku ingin pulang dan merasakan ketentraman dibawah naungan Al-Qur’anNya. Merindu sang Kekasih, dan menyelami rasa mencinta pada-Nya.

Aku ingin kembali, menggelora penuh hamasah dan ruhul jihad untuk berjuang seperti lelaki terbaik dalam hidupku. Rasulullah. Mengikuti sunnah-sunnah-Nya, menjalankan yang dicintainya, mengorbankan ruh, jasad, dan jiwa ini untuk meneruskan risalahnya. Aku rindu perjumpaan dengannya. Hingga aku berharap hari-hariku adalah mencintainya, bahkan melebihi cintaku pada diriku dan lainnya. Hari-hari untuk menoreh cinta, membuktikan pengorbanan, dan memberikan segala yang kan membuatnya tersenyum. Ya, aku ingin kembali. Kembali tergoda akan cinta yang dimiliki Abu Bakar, cinta Bilal, cinta Nusaibah, cinta para sahabat terbaiknya. Kembali pada hakikat diri seorang muslim, seorang da’i dan seorang pencari cinta hakiki. Dia menunggu ditelaga (al Haudh), menanti kebenaran janjiku dan bukti cintaku.

Aku ingin pulang…… Aku ingin kembali…… Sungguh, aku tak mau tertipu lagi, cinta dunia yang semu dan tak pasti. Sahabat, saudaraku, ikhwah fillah, dan energi jiwaku. Aku akan menepati janjiku, komitmenku, mengikuti kata hatiku. Meski semua ini takkan pernah cukup untuk membalas ihsanullah. Meski semua ini menuntut kebersihan hati yang harus berulang kali kuperjuangkan. Meski semua ini menuntut selaksa keikhlasan dan kebenaran janjiku. Insya Allah, aku akan menepati janjiku. Kali ini…, aku harus menjalankan semuanya dengan benar.
Aku terhenti disini… Tak sanggup tuk menuliskan lagi. Jujur, aku ingin berlari, beruzlah, dan merenung dalam gua sepi. Tapi kemudian aku menyadari, Dia begitu dekat, untuk mendengar setiap lintasan dan jeritan hatiku. Dia Maha Tahu, setiap pengkhianatan yang hadir dari mataku, hatiku, lisanku. Dia Maha Penyayang, hingga hidayah, pencerahan masih terus tergulirkan dalam hari-hariku.

Sahabat, saudara, adik-adikku, marilah kita kembali… Pada hakikat cinta yang abadi. Kembalilah…, pada niat suci yang penuh energi. Kembalilah, dan kau akan mengerti semua puzzle permasalahan, soal kehidupan adalah ujian keimanan yang harus dimenangkan. Kembalilah…, untuk merasakan manisnya keimanan dan ketaatan. Kembalilah…, bersamaku. Menata masa depan yang menjanjikan, bidadari yang bermata jeli, sungai-sungai yang mengalir dibawahnya, dan keindahan perjumpaan dengan Sang Kekasih yang takkan pernah terbayangkan. Kembalilah…, doaku bersamamu.

Doakan aku dalam doa-doa malammu, agar mampu menata hati dan masa depan. Aku tahu aku terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak kriteria yang mungkin tak masuk akal. Tapi kali ini aku ingin menepati janjiku…, untuk terus berada disini. Bersama saudara-saudara terbaikku. Dan cukuplah kebersamaan ini menjadi energi untuk aku mengambil segala keputusan atas pilihan yang ada. Semoga yang terbaik.♥ By Rafhyel. Pengechuthe ♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar