Powered By Blogger

Senin, 26 Maret 2012

Ibu Yang Sekuat Seribu Pria

Di sebuah masjid di desa Mesir, suatu sore. Seorang ustadz sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur'an. Mereka duduk melingkar & berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya sekitar 9 tahun.
Sebelum menempatkannya di satu kelompok, ustaz itu ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, dia bertanya kepada anak yang baru masuk tadi, "ada ayat yang kamu hafal dalam Al-Qur'an?"
"Ya," jawab anak itu singkat.
"Kalau begitu, mencoba membacakan salah satu ayat dari juz 'Amma ? ' pinta ustadz
Anak itu mengalunkan beberapa ayat, fasih & benar tajwidnya. Merasa anak tersebut memiliki kelebihan, guru itu bertanya lagi, "Apakah kamu hafal surat Tabaraka?" (Al-Mulk)
"Ya," jawabnya lagi, & segera membacanya. Baik & lancar. Ustaz itu pun kagum dengan kemampuan hafazan si anak kecil itu, meski usianya lebih muda dibandingkan murid-muridnya yang ada.
Dia pun mencoba bertanya lebih jauh, "kamu hafal surat An-Nahl?"
Ternyata anak kecil itu menghafalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu ustaz itu pun mencoba mengujinya dgn surat-surat yang lebih panjang.
"Apakah kamu hafizhul surat Al-Baqarah?"
Anak kecil itu kembali mengiyakan dan membacanya tanpa sedikitpun kesalahan. Dan ustadz itu semakin teruja dengan pertanyaan terakhir, "Anakku, apakah kamu menghafal Al-Qur'an?"
"Ya," jawabnya dengan jujur.
Mendengar jawaban itu, seketika ustaz itu mengucapkan, "Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah"
Setelah hari itu menjelang maghrib, sebelum ustaz tersebut mengakhiri kelas mengaji, secara khusus dia berpesan kepada murid barunya, "Esok, kalau kamu datang ke masjid ini, tolong ajak juga orangtua mu. Ustaz ingin berkenalan dengannya ".
Esok harinya, anak kecil itu kembali datang ke masjid. Kali ini dia bersama ayahnya, seperti pesan ustadz kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, si ustaz bertambah kaget karena gayanya tidak langsung seperti orang alim, kehormatan & pandai.
Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa terlebih dahulu, "Saya tahu, mungkin ustadz tidak percaya bahwa saya ini adalah ayah dari anak ini. Tapi rasa heran Anda akan saya jawab, sebenarnya dibalik anak kecil ini ada seorang ibu yang sekuat seribu pria. Dirumah, saya masih memiliki 3 anak lagi yang semuanya hafal Al-Qur'an. Anak perempuan saya yg kecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah menghafal juz Amma ".
"Bagaimana si ibu itu bisa lakukan itu?" tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya. "
Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah pandai berbicara, si ibu membimbing anak kami menghafal Al-Qur'an dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan kepada mereka,
"Siapa yang hafal lebih dulu, dialah yang menentukan makan malam ini,
"Siapa yang paling cepat mengulangi hafalannya, dialah yang berhak memilih ke mana kita bisa berjalan - jalan nanti"
Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga tercipta semangat bersaing dan berlomba-lomba antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an mereka, "jelas si ayah memuji istrinya.
Sebuah keluarga biasa yang bisa melahirkan anak-anak yang luar biasa. Hanya seorang ibu yang biasa. Setiap kita dan semua orangtua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang saleh, cerdas dan membanggakan. Tetapi tentu hal itu tidak mudah.
Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai & mencintai Al-Qur'an. Membutuhkan perjuangan, harus kekuatan. Harus tekun & sabar melawan rasa letih dan susah tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, " Disebalik anak ini ada seorang ibu yang kekuataanya sama dengan seribu pria. "
Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat & perkasa. Sebab membuat awal yang baik untuk kehidupan anak-anak, adalah tidak mudah. Hanya orang - orang yang punya kemauan & motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu modal pertamanya adalah kesalehan diri. Tidak ada yang lain.
Ibu si anak cerdas ini, dia adalah lambang seorang perempuan solehah yang mewariskan kesolehannya ke dalam kehidupan rumah tangganya. Dialah contoh perempuan yang pernah diwasiatkan Rasulullah kepada kaum pria untuk mereka jadikan pendamping hidup diantara sekian banyak wanita.
Dengan menangggalkan prioritas harta, kecantikan & keturunannya, seperti sabda Rasulullah saw, "Wanita dinikahi karena 4 hal: karena hartanya, keturunannya. kecantikannya, & agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung. "(HR.Bukhari & Muslim).
Perempuan yang dikenalkan kepada kita dalam cerita diatas, dia sebenarnya tidak memulai kerja kerasnya ketika anak-anaknya baru belajar berbicara. Tidak. Tetapi jauh sebelum itu, energinya telah ditumpahkan untuk mengakrabkan mereka dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an saat mereka masih janin.
Dalam kondisi kehamilannya yang berat, ibu ini hampir setiap hari selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an, memperdengarkannya janin yang ada dirahimnya, dalam kondisi berbaring, duduk / pun bersandar . Perjuangan itulah yang berat tapi itu pulalah yang kemudian memudahkan lidah anak-anaknya merangkai kata demi kata dari ayat-ayat Al-Qur'an, saat mereka sebenarnya baru mulai belajar bicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar